Senandung 1000 manusia
To every action there is always opposed an equal reaction.
- Isaac Newton
Kenyataannya, pandangan kita memang sempit. Seringkali kita hanya melihat apa yang di depan kita. Keluarga kitalah yang menjadi contoh, panutan akan apa yang kita perbuat dan lakukan, yang kita bawa kemudian ke pergaulan di masyarakat luas. Teman kita, terkadang menjadi orang kedua terdekat setelah orang tua dan saudara kita, bagaimana kehidupan mereka, tidaklah banyak kita ketahui. Mungkin peringkat ketiga orang-orang yang kita lihat adalah guru, pengajar, senior, mentor, yang memberikan masukan-masukan berupa ilmu, nasihat, dan lain sebagainya.
Atau, pandangan kita sempit, karena kita melihat terlalu jauh. Kita memandangi selebritis-selebritis, orang-orang yang berada di awan-awan, mengikuti setiap langkah mereka setiap hari (bahkan, tiga hari sekali! — bahkan kurang, sekarang dilengkapi dengan suplemen berupa tabloid). Ternyata tidak selalu manusia… Kadang-kadang penglihatan kita terganggu oleh benda-benda mati seperti gadget, otomotif, fashion, (dan/atau) kolom.
Bukan bermaksud menyalahkan semua yang ada diatas. Justru hal-hal diatas adalah yang terjadi dalam hidup saya, dan saya asumsikan juga terjadi pada kebanyakan dari kita. Semuanya ada baiknya, dan tidak salah. Tapi saya disini ingin mengajak teman-teman mencoba mengganti lensa (dari lensa tele yang melihat terlalu jauh, kita ganti jadi lensa wide
) / kacamata kita:
Kita hidup di Indonesia, negara 1000 kepulauan. Dengan sekian juga penduduk. Dan kalau kita tidak sadar, mayoritas penduduk di Indonesia adalah menengah kebawah, bahkan miskin. Kehidupan mereka berasal dari sektor-sektor informal, pedagang kaki lima, tukang becak, nelayan, petani, bahkan pengemis. Semakin tinggi tingkat kesenjangan sosial sebuah negara (dimana sangat tinggi untuk negara Indonesia — contoh: Hotel Hyatt di Bunderan HI, dan perumahan disekitarnya), semakin tinggi juga tingkat kriminalitas negara tersebut. Dalam tingginya kriminalitas, mulai muncul paranoid-paranoid (contoh: takut naik kereta ekonomi!). Munculnya paranoid-paranoid tersebut akan membawa dampak lain, masyarakat merasa tidak aman, dan seterusnya, dan seterusnya…
Poin berikutnya, adalah, saya selalu sedih jika mengikuti kelas AR3211 – arsitektur kota. Contoh-contoh yang disuguhkan adalah contoh-contoh yang baik (bahkan, terlalu baik), dan sangking baiknya sampai muncul kepesimisan tingkat tinggi, “dapatkah Indonesia seperti ini?” (bukan “kapan Indonesia seperti ini?”). Justru kuliah inilah yang membawa saya kepada pemikiran yang saya sampaikan pada paragraf-paragraf diatas. Kalau dilihat Jepang, yang sama-sama menata kembali negaranya pada tahun 1945, sungguh betapa sangat ketinggalannya bangsa ini (saya selalu melontarkan joke bahwa orang-orang Jepang yang tersisa sekarang ini adalah orang-orang yang terbaik saja, karena orang-orang yang gagal menjalankan ujian, dll. sudah melompat dari atap sekolahnya). Dimana letak kesalahan kenapa Indonesia koq tidak membaik? Ada apa dengan jiwa bangsa ini?
Pada dasarnya, manusia adalah mahkluk egois. Setiap individu memiliki keinginan dalam hidup mereka, mereka ingin kaya, ingin hidup sukses, hidup mewah, dan seterusnya (silahkan tambahkan impian-impian lain), dan tak jarang, keinginan mereka mendapatkan hal tersebut menghalalkan segala cara, termasuk menekan orang lain, menghimpit orang lain, bahkan mungkin memukul orang lain. Di lain sisi, manusia adalah mahkluk sosial (dimana mereka membutuhkan orang lain untuk ditekan, orang lain untuk dihimpit, orang lain untuk dipukul), mereka tidak bisa hidup sendiri — tidak bisa hidup egois.
Kembali ke paragraf pertama dari tulisan ini, pandangan kita terlalu sempit — kita terlalu egois dan terpaku dengan apa yang ada di depan kita. Yang kita perlu lakukan adalah sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Banyak teman-teman kita yang lebih membutuhkan “Sonny Ericsson” kalian, “iPod” kalian, “PSP” kalian, “Sepatu” kalian, “Hanamasa” kalian, “Pizza Hut” kalian, “Ice Cream” kalian, “Gitar” kalian, “Jaket” kalian, “Nasi” yang sering kali dibuang-buang kalian, dan “Ego-ego” kalian (dan saya) lainnya.
Menurut pemikiran pribadi saya, mengubah bangsa—membuat Indonesia lebih baik, bukanlah berdebat panjang sampai pagi mengomentari keputusan petinggi-petinggi negara, politikus-tikus, dkk. (menurut saya, itu sama aja seperti menonton berita selebritis kawin-cerai setiap pagi, lalu dikomentarin sampai bebusa, tanpa kita bisa menghentikan mereka bercerai, atau menikah dengan siapa?) tapi langkah konkrit, bagaimana kita membuat masyarakat Indonesia (totem pro parte), merasa diri mereka lebih sebagai manusia bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat, bukan manusia pinggiran dan buangan. Bahwa mereka boleh memiliki semangat hidup yang kita miliki, dan mereka boleh berharap seperti kita berharap, bermimpi seperti kita bermimpi.
Oleh-oleh dari Jogja,
Reinard Ch.
(Hua~ reinard pindah divisi jadi pengmas)
PS: @mitul: sorry, nyelak nulis di [Pengabdian Masyarakat]. semoga pengmas IMAG juga menjadi sarana kita bisa melakukan tindakan nyata.
PSS: tambahan sedikit, bukan menyalahkan, tapi hanya menilai bahwa senandung 1000 KOLOM, adalah sebuah tindakan berlebihan. Karena pada kenyataannya kolom tidaklah bersenandung, mungkin kalian bisa merasakan bahwa KOLOM itu bersenandung, kalian bisa menjiwai kesedihan mereka, dan merasakan kesedihan mereka. Terus, apa kalian tidak mendengar senandung mereka? teriakan mereka? jeritan mereka? erangan mereka? . . . terus terang, agak sedih.

Kalo gw boleh berfilsafat, semua ke-egoisan manusia itu sebenarnya menuju pada satu cita-cita hakiki: kebahagiaan. Pahlawan-bajingan, penjahat-penegak kebenaran, koruptor-idealis, semua jenis orang pada dasarnya, gw yakin, mencari kebahagiaan. Se keji-kejinya orang, ga mungkin dia punya cita-cita: “masa depan yang sengsara dan menjijikan”. Tapi sekarang, kembali, tingkat kebijaksanaan manusia berbeda-beda. Mungkin inilah yang lo sebut, Rei, dengan keculasan pemikiran (sori, kalo ternyata maksud yg gw tangkep dari lo salah).
Ada orang yang melihat para jutawan sebagai orang bahagia, kemudian berpikir bahwa uang adalah sumber kebahagiaan. Mereka mengejar kebahagiaan dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Ada orang yang melihat kaum seleb sebagai orang bahagia, kemudian berpikir bahwa ketenaran adalah sumber kebahagiaan. Mereka hidup dengan mengejar ketenaran. Atau ada juga orang seperti lo, Rei, yang berpikir bahwa kebahagiaan orang di sekitar lo adalah sumber kebahagiaan yang sebenarnya. Kemudian lo hidup dengan melayani kepentingan orang banyak, berusaha membahagiakan orang lain.
Apa sumber kebahagiaan sebenarnya? Gw ga punya jawaban yang bisa berlaku universal. Tiap orang punya caranya sendiri dalam menemukan kebahagiaan mereka. Gw pribadi ga berusaha mengeneralisasi apa itu sumber kebahagiaan, dan gw berusaha tidak menyalahkan pandangan orang lain yang mencari sumber kebahagiaannya, meskipun pemikiran orang itu berbeda dengan pemikiran gw. Yah, asalkan lo ga menjagal kebahagiaan orang lain untuk mendapat kebahagiaan lo, menurut gw ga ada masalah…
Keragaman jalan yang dipilih orang dalam mencari kebahagiaan mereka itulah yang gw pandang sebagai potensi untuk meningkatkan kebijaksanaan kita. Di sini lah fungsinya diskusi, sosialisasi, pertukaran pikiran. Bagaimana kita bisa mendapat pengalaman akan suatu hal tanpa harus mengalaminya langsung, itulah fungsi bertukar pikiran. Dan dengan meningkatkan kemampuan untuk memandang suatu hal dari berbagai aspek, meningkat pula kebijaksanaan kita dalam memilih jalan menuju sumber kebahagiaan yang sebenarnya.
Ok, mungkin komen ini terlalu panjang, jadi gw sudahkan saja. (mudah-mudahan gw) Selalu ada cukup waktu untuk bertukar wacana.
wew..
gw inget kata2 lucky di bukom “seeing through the shadow, allow us to appreciate the light”..
komen.. jadi agak bingung mau mulai dari mana.. buat gw dah terangkum juga di komennya om pacet.. hmhmhm.. kebahagiaan hakiki ya.. mungkin untuk memahaminya kita harus lebih sering berKONTEMPLASI, memahami sesuatu yg abstrak, yaah, memahami inti dari kehidupan dengan lebih mendalam.. dan gw masih berusaha tentunya.. lewat kontemplasi tadi, mungkin kita bisa lebih memahami kenapa kita ada disini, melakukan semua ini, mencari sesuatu, yah, semua alasan yg dibutuhkan untuk meyakinkan diri kalo kita udah dan mampu melakukan sesuatu yg paling pas, fit. yah, seperti kata om pacet (lagi), gw akan sangat senang untuk membicarakan hal2 yg bau2nya seperti ini.. hehe.. pis, bi
yah, tentunya setelah itu gak bisa sekedar mikir dan lo ngerasa jadi orang hebat, tapi orang hebat (mungkin) orang yg bisa membuat mimpi2nya menjadi nyata, dalam arti lo melakukan sebuah pergerakan yang menyentuh hal2 yg memang dibutuhkan, sekecil apapun. pakde mies van de rohe pernah bilang, “GOD IS IN THE DETAIL”, yang kemudian dibales dengan ‘EVIL IS IN THE DETAIL”.. selama ini, mungkin yg sering kita lakuin ya sebatas mikir, mikir yg hebat2 tentang Indonesia.. tapi gw suka malu, kalo nge-handle hal yg sepele aja gak bisa. gw (sedang) berusaha untuk mulai dari hal2 nyata yang kecil..
dikaitkan dengan quote-nya om van der rohe, disitulah kekuatan sebuah pemikiran besar, ketika design lo mampu diterapkan hingga ke detailnya.. dan detail itulah yg akan ‘membunuh’ lo, karena bisa jadi effort untuk mewujudkan detail seringkali menjadi proses yg terlupakan selama ini..mm..menurut anda??
terus..
gw rasa, berpikir positif membantu untuk membuka pikiran kita.. sampai hari ini gw berusaha untuk berpkir positif, selalu. lihat semua hal dari sisi positifnya!!
kehidupan manusia adalah PROSES, perkembangan manusia pun juga proses.. hari ini harus lebih baik dari kemaren, besok harus lebih baik dari hari ini..
kontemplasi, berpikir, bergerak = proses,
berpikir positif dan kepercayaan diri itu bumbunya, semuanya diaduk berulang2 hingga mencapai kebahagiaan hakiki kita.
jadi??
terserah anda..
kata peribahasa, “banyak jalan menuju roma”
mungkin kita bisa mulai dengan mengebawain martabak buat bapak2 yg jaga parkiran sr, yah, sekarang mereka harus jaga 24jam.. atau mulai ngumpulin baju2 bekas kita buat orang yg membutuhkan.. mungkin kebahagian berasal dari kebahagiaan orang lain??? (menghasilkan sesuatu yg real, tentunya)
semoga pemikiran2 kecil ini bisa ngebawa kita untuk lebih bertanggung jawab menghasilkan pemikiran2 yg sangat besar..
yaudin lah..semoga masih berkaitan..
hehe..hanya berbagi..
yuk.ah.
Hahaha.. akhirnya datang juga oleh2 dari jogja yang sebenarnya,,kalo dianalogikan dalam bentuk barang, baru bisa diliat, belom bisa dipergunakan..mudah2an dah mulai dibaca manualnya dan mempergunakannya sedikit demi sedikit (ahaahaha..mudah2an ngerti)
Pada kenyataannya, menggugah orang lain untuk sama2 memasang ‘lensa wide’ memang sudah susah, apalagi kemudian menindaklanjutinya dengan tindakan nyata adalah hal tersulit..
Yah, inilah yang sedang diperjuangkan,
teringat jaman kaderisasi, ketika ipul bilang ‘sekedar ingin membuat orang lain tersenyum, semakin banyak yang tersenyum semakin baik’
Sederhana tapi tidak semudah itu untuk diwujudkan,
salah satu yang menjadi modal,
bukan keinginan muluk2 menginginkan indonesia menjadi seperti negara2 makmur, yang punya stabilitas ekonomi dan blablabla.
tapi sekedar, kalau saya bisa merasakan kenyamanan seperti ini, kenapa orang lain gak bisa,,
Mudah2an pikiran dengan lensa wide akan terus menjadi dasar untuk segala tindakan ke depan..
Ps:@nat, bagi tulisannya untuk wacana pengmas,
rasanya, tulisan orang yang baru saja merubah lensa tele menjadi wide (piss) lebih berasa auranya..heheheh
Pss:Seperti yang saya bilang.Menindaklanjuti menjadi kenyataan adalah hal tersulit. Mungkin 1000 kolom adalah salah satu pemanasannya. Mudah2an setelah itu berlanjut pada objek2 beremosi,,oke;p
hahaha,keren rei….salut
sejujurnya,gw sempat berpikir mungkin loe berpikir dengan pola pikir anak unpar yang orientasinya kebanyakan adalah tentang,uang dan masa depan pribadi(piss bro:)
tapi sekarang,sumpah,gw salut banget ama loe…ternyata loe gak unpar,hehehe,ITB banget malah,berwacana,tentang hal sosialita masyarakat bangsa dan lingkungannya…
gak ada yang salah kayanya dari yang semuanya katakan…
dan semua cara emang bisa…ada cara kita memulainya dari sesuatu yang kecil2 aja dulu yang diharapkan akan meluas secara sendirinya,secara alamiah perlahan…cara ini adalah cara yang cukup banyak di laksanakan,karena memang relatif bisa dikerjakan,tapi mgkin disitu justru faktor geografis kita jd berpengaruh…sekian banyak pulau yang terpisah perairan,yang mengakibatkan arus informasi kadang2 terbatas teritori wilayah(mungkin kalo kita kirim 1 duta di setiap pulau bs juga ya,hehehe)
dan luasnya daratan juga menjadi kelelahan tersendiri untuk persebaran informasi dan kecerdassan yang sebenarnya kita harapkan meluas…
nah sebenarnya kalo buat negeri ini bisa juga pake cara langsung dari atas,melalui jalan yang lebih kuat…misal,loe jadi presiden dan deklarasikan ini di indonesia,trus ntar diperkuat di provinsi2,terus di kabupaten2,terus di kecamatan2,dst…tapi ini sangat susah,karena loe harus punya power yang sangat besar…tapi poweer inilah yang akan menjaga misi loe akan terlaksana dengan baik…dan disini butuh segelintir orang yang dapat dikatakan pemimpin,yang berani,tegas,jujur,dan bijaksana…dan rakyat akan mencintainya.kekuatan cinta dari rakyatnya itulah yang akan mewujudkan misi2nya…
karena sekarang sepertinya itu permaslahan bangsa kita…rakyat tidak mencintai pemimpinnya,atau berusaha mencintai pemimpinnya(ya gak bisa majulah kalo setiap hari yang ada adalah,saling curiga,saling menyalahkan)
dan mungkin pemimpinnya jg perlu dievaluasi…
mau yang mana?hehehe,gak masalah kok…karena emang harus ada kedua2nya…
menjadi pengembara yang menyebarkan ilmu kebaikan dimana2…atau mengumpiulkan kekuatan untuk memegang posisi yang kuat untuk melaksanakan misi kebaikan…bukan kekayaan.
teman2,tapi diingatlah…berpikir harus mendalam,tp jgn sampai begitu mendalamnya sampai tenaga kita habis untuk mewujudkannya…
diingatlah ini sampai kapanpun,jgn sampe cuma sensasi seaat ketika isu masih segar di panca indera,lalu terlupa rasanya sebelum mencapai esensinya…hehehe,maaf,bukan sok pintar,cuma mengingatkan…
ayo rei,kalo mau dikonkritkan…kita kerjakan…kita tunjukkan kebahagian yang cerdas,cerdas dalamm kebahagiaan,kita ajak bangsa ini tersenyum untuk menghapus aura hitam di udara indonesia…!!!
GW menanti,dan kayanya ITB menanti deh…hehehe…
aku cinta Indonesia
(negeri yang sedang dilanda krisis,tapi gelak tawa berkibar di pelosok negeri,hahaha,bingung gak loe)
hehehe,,
sedikit tersinggung,,walopun gw gak bisa ngomong ama kolom,,gw cuman pengen membangun aksi yang orang bilang “gak penting” ini biar orang lebih ngehargain arsitektur,,walopun itu cuman kolom,, merambat untuk menggerakkan hati orang untuk “melakukan sesuatu pada tempatnya”, hanya itu,
gw sedih juga sih,,baca komen ttg 1000kolomnya,,sedih karena gak banyak yang dateng,,sedih karena ternyata cuma buat capek anak2 humas karena himpunan lain yang dateng cuma2,,
tapi ya sudahlah,,,
setidaknya gw sudah berbuat sesuatu untuk memperbaiki,,walaupun ternyata cuma dipandang sebelah mata sama orang,,
walopun “kecil” tapi gw cukup bangga untuk melakukan itu,,seperti kata Sarah Ginting,”..yang penting,kalau kamu yakin benar,lakukan itu,walaupun itu hal yang amat kecil,semua itu penting,walaupun itu kecil”
..dan gw percaya dengan yang dia bilang,,
sampai detik ini