dari babakan siliwangi hingga kesenjangan sosial
Isu babakan siliwangi yang kembali hangat akhir-akhir ini,
menimbulkan berbagai pertanyaan yang saling terkait antara satu dengan lainnya.
Pembangunan dengan alasan kepariwisataan yang mulai tidak bertanggung jawab,
melalui privatisasi ruang-ruang untuk publik termasuk ruang terbuka hijau yang menimbulkan berbagai efek, dari ekologi, sosial, budaya dan ekonomi
Timbul pertanyaan dalam benak saya, apakah pemerintah hanya mempertimbangkan pariwisata bandung ditujukan untuk kalangan tertentu, jika langkah-langkah privatisasi yang diambil.
Apakah tidak layak bagi kalangan bawah untuk menikmati hal yang sama dengan kalangan atas.
Apakah privatisasi merupakan satu-satunya jalan membangun pariwisata kota di bandung?
Bukankah Bandung memiliki kekayaan budaya serta rencana pembangunan kota yang terbengkalai di jaman belanda yang layak untuk diperjuangkan, bukannya membuat masalah yang baru..
Apakah suatu tempat hanya akan menghasilkan pendapatan yang banyak ketika yang datang hanya dari kalangan atas?
benarkah demikian?
apakah keberhasilan ruang publik di negara seperti eropa, hanya berhasil karena tidak ada lagi kesenjangan sosial?
Apakah indonesia tidak memiliki kemungkinan untuk merasakannya juga?
perasaan diterima di ruang publik, yang hingga sekarang hanya dapat dirasakan di negara dengan perekonomian yang telah merata.
sebuah pertanyaan besar, ternyata berangkat dari isu kawasan berbentuk tapal kuda , babakan siliwangi.
Masalah kesenjangan sosial yang berlarut dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dan menyentuh berbagai disiplin keilmuan.
Apa yang dapat kita lakukan sebagai kalangan akademisi arsitektur , untuk memberikan solusi bagi masalah besar negara ini, yaitu kesenjangan sosial?
