Pengabadi Momen
Tahun lalu; aku hanya seoarang pengabadi momen. Sampai sekarangpun, aku hanya seorang pengamat, yang hanya berbisik-bisik dari kursi penonton, menyaksikan pergulatan singa dan sang gladiator bertarung di arena. Aku hanya pihak ketiga, yang tidak pernah mengeluarkan suaranya ditengah dentuman dan hujaman peluru yang lalu lalang di medan pertempuran.
Pertarungan yang tak terhindarkan. Sebuah ajang adu argumen yang wajib di lakukan setiap tahunnya.
Sebuah ‘ritual’ mendarah daging menyambut anggota baru.
Apa yang sebenarnya kita lakukan? Apakah ritual berdarah ini harus dilakukan setiap tahunnya? Apakah ritual ini mengandung nilai-nilai tersembunyi dibaliknya? Kenapa ritual ini tidak pernah mencapai kepuasan? Kenapa ritual ini selalu memiliki masalah yang sama? Dan jawaban yang sama? Lingkarang setankah…?
Apakah sosialisasi atau asistensi yang selalu kita lakukan?
Aku percaya mereka yang men-sosialisasi atau meng-asistensi kita juga di-sosialisasi/di-asistensi pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka juga merasakan hal yang sama. Dan mereka melakukan kembali hal yang sama. Apakah mereka merasakan manfaat dari sosialisasi (atau asistensi) yang panjang dan (terkadang—seringkali) menjemukan, sehingga kembali mereka (seolah-olah, atau memang) ingin menurunkan nilai tersembunyi dibalik ‘ritual’ ini.
Ataukah mungkin, panitia penyambut anggota baru sekarang; akhirnya juga merasakan manfaat tersembunyi tersebut dari proses ‘ritual’ ini, serta kemudian akan melakukan hal yang serupa tahun depan? {angkat bahu}.
Aku hanya seorang pengabadi momen(, bukan pembawa acara gossip — pertanyaan diatas tidak bisa dijelaskan disini walau setelah “pesan-pesan berikut”), mungkin juga seorang yang berpikiran dangkal. Mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan akibat kedangkalan pikiran penulis.
Salam,
Pengabadi momen yang bisu.

wahahahaha pengabadi momen???
gw juga dong, heheheheh
ritual? tidak bisa dibilang hanya sebuah ritual saja, yang dilakukan disini lebih kompleks dari itu.
kalo kata bintang kaderisasi adalah sebuah pembelajaran untuk kita semua, baik panitia maupun peserta,, dan gw anggep adalah sebuah kemuliaan jika kita mencerdaskan manusia, karena itu mentargetkan dasar dari konsep manusia hidup yaitu berpikir.
yang dialami kemarin adalah penurunan nilai dari orang yang lebih tau akan preseden kaderisasi ini, jika kita telusuri memang seakan ada lingkaran setan yang tiada akhir namun itulah yang menjadi proses belajar untuk IMA-G secara luas karena kita bukanlah organisasi yang stabil,, kita blum memiliki undang2 yang jelas dan aplikatif, kita blum memiliki standar2 dalam setiap langkah, sistem kita masih dinamis(berubah sesuai kebutuhan),, namun yang gw liat IMA-G sedang berkembang ke arah yang lebih baik, dan akan terus berkembang jika ‘anak cucu’ kita melanjutkannya dengan baik maka dari itu dipeerlukan penurunan ilmu yang baik,, maka tak heran jika melihat orang2 diluar sistem mengkritik kaderisasi ini, karena merekapun ingin IMA-G yang sudah mereka bina dengan baik untuk diteruskan oleh orang2 dalam sistem meneruskannya dgn baik dan memastikan penurunan nilai ke anak baru berjalan lebih baik!
jadi gw anggap apa yang telah dan sedang terjadi di IMA-G adalah suatu perkembangan, untuk yang akan terjadi itu tergantung kita dan yang kita turunkan nilai,
untuk IMA-G yang lebih baik!
VIVAT VIVAT G IMA-G TETAP JAYA!!!!!
I’m baaa~ack…
Akhirnya gw inget juga password gw
Setelah berbulan2 hilang dari forum dunia maya, inilah comment pertama gw
Ritual? Mungkin iya, mungkin tidak.
Secara pribadi, sebagai salah seorang di kepanitiaan inti, gw jelas menginginkan kaderisasi G ’08 mampu menjadi lebih dari sekedar ritual, tradisi, kultur, apapun itu namanya.
Tapi harus gw akui, gw sendiri ga bisa mengatakan bahwa diri gw puas dengan kinerja gw sebagai panitia. Ada terlalu banyak cita-cita gw yang ga tercapai, wacana yang tak tersampaikan, pemikiran gw yang tidak tersosialisasikan, dan harapan kakak2 gw yang tidak terkabulkan.
Hehe, penyesalan emang datang belakangan. Gw ga menyalahkan siapa2 atas semua itu. Emang gwnya aja yang angin2an. Atau istilah serunya, panas2 tai ayam. Mungkin ini juga Rei, yang dirasakan G 05 ke atas. Mereka merasakan penyesalan atas kekurangan yang mereka lakukan, dan ingin memperbaikinya ketika angkatan di bawah mereka mengeksekusi. Sialnya, angkatan yang mengeksekusi seringkali kesulitan untuk memahami kecacatan2 dalam eksekusi yang mereka jalankan.
Tapi, yah… memang diperlukan dua intelegensi yang terlibat dalam suatu pekerjaan agar pekerjaan itu bisa berjalan dengan baik: intelegensi untuk mengeksekusi, dan intelegensi untuk mengawasi eksekusi. Sangat amat jarang sekali, kedua intelegensi ini ada di kepala yang sama pada waktu yang sama. Gw juga ga ngerti bagaimana caranya agar yang lu sebut lingkaran setan ini bisa putus, selain dengan komitmen total dan tulus tiap angkatan untuk membuat IMA-G menjadi lebih baik (yang gw pun ga yakin bisa menjalaninya).
Yah, dengan kegagalan2 yang gw lakukan, gw ga menyalahkan siapapun pihak yang menilai kaderisasi G 08 sebagai ritual. Tapi, seperti yang sering dikatakan kakak2 kita, gw akan mengatakannya bahwa: itu salah gw, bukan salah IMA-G. Pernyataan ini terutama gw tujukan buat G 08. Sori kalo kalian merasa kurang mendapatkan sesuatu dalam kaderisasi kemarin, dan semoga di masa yang akan datang, kalian melakukannya dengan jauh lebih baik dari gw.
eh~ salah nangkep ne, kayaknya… gw nggak pernah bilang kaderisasi itu ritual. XP~